Polling

Menurut anda Tampilan Web site ini Bagaimana ?


Hasil

Statistik Pengunjung


Pengunjung Hari ini : 71
Pengunjung Bulan ini : 279
Total Pengunjung : 2469

SEJARAH, BUDAYA & AGAMA


1. Sejarah Lokal Kampung

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa tokoh adat dan tokoh masyarakat, disebutkan bahwa Kampung Lesan Dayak telah ada sejak tahun 1800an. Pada masa itu wilayah mereka disebut “maungun” yang artinya kampung dan telah memiliki pemimpin atau pemangku kampung. Dari tahun 1800-an sampai dengan tahun 1945, terdapat 3 (tiga) orang pemangku yang pernah memimpin dikampung ini yaitu Syat Bonglay, Nyek Wan dan Lihiyu Kanum.

Tahun 1930 masyarakat pindah ke salah satu pesisir sungai Kelay yang mereka sebut “Letah Ayak” yang artinya dataran besar. Nama inilah yang menjadi asal nama kampung Lesan Dayak.

Tahun 1945 diterbitkanya Surat Keputusan dari Pemerintah Kabupaten Berau bahwa Kampung Lesan Dayak merupakan bagian daripada satu kesatuan kampung yang ada diwilayah Kabupaten berau. Pada tahun 1945 sebutan kepala kampung adalah Pengirap, yang mana pengirap ini merupakan gelar bagi seseorang yang dipilih oleh masyarakat untuk memimpin jalannya roda pemerintahan.

Tahun 1945 kampung Lesan Dayak dipimpin oleh seorang Mualaf dari suku dayak yang bernama H. Wahid, yang nama aslinya sebelum memeluk agama Islam adalah Nyek Wan. Nyek Wan menjabat sampai tahun 1960. Setelah itu digantikan oleh pengirap Lihiyu Kenum, masa pemerintahannya sampai tahun 1965, lalu diganti oleh Ding Juk masa pemerintahannya sampai tahun 1970. Tahun 1970 dipimpin oleh Baltiding hingga sampai tahun 1976.

Sejak tahun 1976 inilah sebutan pengirap diganti Kepala Desa. Adapun gelar kepala Desa pertama yang menjabat atau yang terpilih adalah Amatlah, pada masa pemerintahan Amatlah mulai dilakukan pembangunan infrastruktur kampung seperti gereja, sekolah dll.

Pada tahun 1997 masyarakat memindahkan pemukiman dan pusat desa ke seberang sungai Kelay tepat dipesisir sungai Blekay, yang awalnya  merupakan  daerah  ladang  dan  perkebunan.  Masa pemerintahan Matias L, pusat pemukiman kembali ke tempat awal sampai sekarang dimana kampung  Lesan  Dayak  dipimpin  oleh Yusrianto

Belum ada penelitian untuk menginventarisir peninggalan-peninggalan budaya Kampung Lesan Dayak. Saat ini hanya ada beberapa kuburan kuno yang berada dipinggir sungai dan kondisinya sudah tidak terawat lagi.

Silsilah Kepala Pemerintahan Kampung Lesan Dayak

Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur

Nama

Periode Jabatan

Keterangan

Nyek Wan, Lihiyu Kanum,

Syat Bonglay

1800 – 1945

 

H. Wahid (Nyek Wan)

1945 – 1960

 

Lihiyu Kanum

1960 – 1965

 

Ding Juk

1965 – 1970

 

Baltiding

1970 - 1975

 

Amatlah

1976 – 1989

 

Baltiding

1989 – 1997

 

 

1998 – 1999

Masa Transisi

Kipli

2000 – 2002

 

Elisa Bitmang

2003 – 2006

 

Dafit

2006 – 2011

 

Matias L

2011 – 2017

 

Yusrianto

2017-2023

 

 

2.  Adat & Bahasa

Kampung Lesan Dayak adalah salah satu kampung di kabupaten berau yang memiliki suku asli yakni suku dayak. Sebagaimana kita ketahui bahwa suku dayak terbagi dalam berbagai macam sub suku dan yang menjadi penduduk asli Kampung Lesan Dayak adalah suku dayak gaai.

Selain di kampung Lesan Dayak, sebaran suku dayak gaai di kabupaten Berau yang menjadi penduduk asli ada dibeberapa kampung lagi, antaranya kampung Tumbit Dayak, kampung Long Lanuk, kampung Long Laai dan kampung Long Ayan.

Penduduk Asli Suku Dayak Gaai

Terdapat beberapa ritual adat yang dilakukan secara bersama oleh suku dayak gaai, diantaranya adalah  “Kudung Betiung/Lem  Lu”.  Ritual  ini merupakan  prosesi penobatan status kepada anak laki-laki bahwa yang bersnagkutan sudah dinyatakan dewasa.

Selain lembaga pemerintahan, Kampung Lesan Dayak memiliki lembaga adat dan dipimpin oleh seorang kepala adat. Bahasa yang digunakan adalah bahasa dayak gaai. Namun seiring waktu, terdapat beragam suku yang telah menjadi penduduk asli di Kampung Lesan Dayak diantaranya suku jawa, suku bugis, suku toraja, suku berau dll sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan mereka.

Pakaian Adat Suku Dayak Gaai

3. Agama & Keberagaman

Mayoritas warga kampung Lesan Dayak beragama kristen protestan (67%). Setelah itu agama islam adalah agama terbesar kedua yang kebanyakan dianut oleh warga pendatang, dan sebagian warga beragama kristen khatolik.

Saat ini tempat ibadah yang tersedia adalah gereja kristen protestan. Gereja ini merupakan satu-satunya tempat ibadah di Kkampung Lesan Dayak,  sementara  masjid/mushola  maupun  gereja  khatolik  belum dibangun. Walaupun demikian kehidupan antar beragama dikampung ini selalu harmonis.

Ada beberapa kelompok/persekutuan gereja di Kampung Lesan Dayak yakni Perkarya, Perkawan, Kelompok Lansia dan Kelompok Pemuda. Selain menjalankan ibadah, kelompok ini juga sering melakukan kegiatan gotong royong membantu sesama anggota persekutuan.